Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)

Victor Silaen’s Page

VS Berpolitik

Salam sejahtera sahabat semua.

Akhirnya saya “kalah”, alias tidak berhasil masuk 4 besar Calon DPD dari DKI Jakarta yang akan dilantik Oktober nanti. Saya ketahui itu beberapa hari sebelum 9 Mei lalu, langsung dari seorang anggota KPUD Jakarta Barat yang notabene kawan saya.

Tentu saja saya kecewa. Tapi stres? Rasanya tidak – begitulah yang saya rasakan ketika menerima informasi tersebut. Saya tenang saja. Entahlah, mungkin karena di hari-hari rekapitulasi yang molor terus itu akhirnya saya sudah bisa menduganya; atau mungkin juga karena saya tidak menjual apa-apa dan membeli apa-apa sewaktu proses menuju DPD ini. Saya memang tidak mau berupaya lagi setelah 9 April, seperti mengutus saksi atau datang ke acara rekapitulasi. Memang, ada juga beberapa kali kawan tim relawan yang beberapa kali datang, dan saya sendiri menyempatkan diri sekali datang. Saat itulah saya betul-betul melihat “keanehan” dalam acara rekap tsb: bagaimana suara para caleg bisa berubah-ubah di komputer (terlihat di in focus di luar ruangan di sebuah hotel saat itu). Saat itu juga saya mendengar banyak cerita dari salah seorang panitia, tentang panitia sendiri (khususnya di tingkat Kecamatan), yang bisa “mengatur” siapa saja caleg yang bakal menang. Asal, tentu saja, sanggup memberi “yang satu itu”. Salah seorang teman caleg partai, memang, kepada saya bercerita bahwa dia pernah di-sms panitia kecamatan agar mau bayar kalau tidak mau suaranya dikurangi.

Ah, inilah busuknya perpolitikan di Indonesia. Saya menduga kuat, suara saya pun diambil dan dipindahkan ke caleg lain (tapi bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa saya bakal menang kalau suara saya tidak diambil). Jumlah perolehan suara saya merosot sekali dibanding laporan-laporan per TPS. Mungkin itulah risiko tidak mengutus saksi resmi ke acara rekap-rekap tersebut.

Yang jelas, saya justru mendapatkan banyak pelajaran penting dan berharga tentang politik praktis, dari pengalaman sendiri – bukan dari literatur saja, seperti selama ini. Khususnya di Indonesia, saya bisa menyimpulkan bahwa yang bisa tampil menjadi ”pemimpin” di pentas politik adalah mereka yang betul-betul punya kekuatan (entah karena punya massa, punya duit, didukung mesin birokrasi, karena bapak-ibu-keluarga-kerabatnya adalah pejabat tinggi negara atau orang penting di negara ini, dan yang sejenisnya). Jadi, yang namanya kualitas, kapabilitas, dan integritas, ah… tak terlalu berartilah itu. Bukan tak penting, tapi tak menjamin orang dengan kriteria seperti itu bakal sukses.

Tapi lalu, apakah “orang-orang biasa” tidak bisa menjadi “pemimpin” di pentas politik? Tentu saja bisa, tapi peluang itu sangatlah kecil, alias sulit sekali. Apalagi ditambah sistemnya dan panitianya (terutama para komisioner di KPU yang kinerjanya amat buruk itu) yang sulit dipercaya.

Uang, betapa pentingnya di kancah politik Indonesia dewasa ini. Bahkan dari awal, para caleg tidak usah repot-repot berkampanye pun tidak apa-apa; tetap bisa menang asalkan nanti mau dan mampu beli suara dari panitia. Itulah yang dikatakan salah seorang panitia tersebut. Puih… kotornya politik itu.

Tapi, yang juga kotor adalah (sebagian) rakyat, karena rupanya mereka sudah makin pandai memandang caleg sebagai komoditas. Dukungan bisa diberikan (walaupun tak ada jaminan), asalkan caleg siap membelinya. Saya mengalami sendiri, cukup banyak orang yang menghubungi saya (bahkan ada yang datang langsung ke rumah tanpa janji) dengan maksud itu. Dan yang prihatin, banyak yang “menjajakan” dukungan itu adalah orang-orang yang kelihatannya “saleh” dalam beragama.

Inilah salah satu keprihatinan kita ke depan, selain bahwa yang menjadi wakil rakyat terlantik nanti sebagian besar adalah: 1) mereka yang menang karena kekuatan duitnya; 2) mereka yang menang karena bapak/ibu atau kerabatnya adalah pejabat tinggi negara (dari presiden, gubernur, bupati/walikota, dst); 3) mereka yang menang karena mujur atau populer tapi habitus lamanya bukan sosial politik atau yang berkaitan dengan itu (jadi, politik betul-betul “lahan baru” buat mereka).

Saya memang tidak berhasil, tapi dengan “bahasa iman” saya menyimpulkan bahwa “Tuhan tidak membuka pintu bagi saya masuk ke DPD”. Itu sebabnya, kepada orang-orang lain yang mengatakan “Sudahlah, berjuang lagi nanti lima tahun lagi….”, saya selalu menjawab “Tidak” atau cukup tersenyum saja. Sebab bagi saya, bukan kursinya, melainkan perannya yang terlebih penting. Jadi, saya tidak terobsesi untuk nanti berjuang lagi (merebut kursi), sebab perjuangan niscaya tak pernah henti di dalam kehidupan saya, melalui jalur mana pun yang Tuhan buka untuk saya.

Akhirnya, kepada sahabat semua, saya sampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk bantuan dan dukungannya selama ini. Mohon maaf jika ada kesalahan yang saya lakukan. Percayalah, perjuangan tak pernah berhenti di dalam hidup saya.

Bagi mereka yang tergerak membantu pendanaan website ini, silakan kirim ke BCA a/c 7060104373. Terima kasih.

Salam

Victor Silaen

  • Tools & Widget


    Victor Silaen Feedburner
    Statistik Blog
    Add to Technorati Favorites
    Political Activism Blogs - BlogCatalog Blog Directory
    Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!
    Join My Community at MyBloglog!