Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)

Victor Silaen’s Page

January 21st, 2012 at 3:12 pm

Refleksi Perjalanan 150 Tahun HKBP

Dimuat pada Koran Jakarta, Sabtu 21 Januari 2012

Judul Buku: Lahir, Berakar dan Bertumbuh di Dalam Kristus; Sejarah 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan 7 Oktober 1861-7 Oktober 2011
Penulis: Pdt. Dr. Jubil Raplan Hutauruk
Penyunting: Sahat P. Siburian
Penerbit: Kantor Pusat HKBP, Pearaja, Tarutung
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal Buku: xxii + 438 halaman

Refleksi Perjalanan 150 Tahun HKBP
Oleh Victor Silaen

Puncak dari perayaan acara Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sudah berlalu, 4 Desember lalu. Di tengah banyaknya program yang dicanangkan dan dilaksanakan, ada satu yang tidak terekspos, yakni diterbitkannya sebuah buku berjudul Lahir, Berakar dan Bertumbuh di Dalam Kristus; Sejarah 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan 7 Oktober 1861-7 Oktober 2011 ini. Padahal penulisnya adalah Ephorus (Emeritus) JR Hutauruk (1998-2004), yang dalam kepanitiaan nasional Jubileum 150 Tahun HKBP dipercaya sebagai Ketua Seksi Sejarah.
Buku ini terdiri atas tiga bab, tapi setiap bab terdiri atas banyak sub-bab. Itulah yang membuat buku ini menjadi sangat tebal. Bayangkan, 438 halaman, itu pun karena ukuran panjang dan lebar buku ini (23,5×15,5 cm) lebih dari ukuran buku-buku pada umumnya. Kalau kurang dari itu, sudah tentu jumlah halaman buku ini menjadi lebih banyak lagi.
Dibuka dengan Daftar Singkatan, Daftar Istilah Batak, Pengantar, Kata Sambutan Ephorus (Dr. Bonar Napitupulu) dan Kata Sambutan Ketua Umum (Edwin P. Situmorang), bagian pertama buku ini adalah Pendahuluan (tapi tidak termasuk dalam tiga bab yang disebutkan tadi). Bagian ini menjelaskan tentang isi buku, penjelasan tentang mengapa kelahiran HKBP ditetapkan tanggal 7 Oktober 1861, lalu uraian tentang tema dan sub-tema jubileum ke-150 tahun. Adapun tema jubileum kali ini adalah “Hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia, berakar, dibangun dan bertumbuh di dalam Dia” (Kol 2:6-7), sedangkan sub-temanya adalah “Dengan Jubileum 150 Tahun HKBP membangun jatidirinya sebagai gereja yang bersumber kepada Alkitab, beribadah dan mencerdaskan warganya, bersaksi dan melayani di tengah-tengah masyarakat, serta mandiri di bidang teologi, daya dan dana”.
Bab I berjudul “Di Mana Kita Berada?” Bab ini pada intinya mengedepankan uraian tentang keberadaan gereja HKBP dari masa ke masa, dengan penekanan pada masa sekarang. Keberadaan HKBP tidak lepas dari keberadaan bangsa dan masyarakat Indonesia. HKBP menghormati realitas kebhinekaan umat beragama di Indonesia, namun menghendaki kesatuan dalam berideologi, berbangsa, bernegara dan berbahasa.
Bab II, dengan judul “Kilas Balik Perjalanan HKBP”, menguraikan kilas-balik perjalanan HKBP selama 150 tahun ini (18561-2011). Di dalamnya, antara lain, dibahas tentang asal-usul HKBP sehingga keberadaan dan bentuknya sebagai gereja dari masa silam itu dapat dipahami oleh generasi muda sekarang. Terkait itulah maka kisah tentang pekabaran Injil di Tanah Batak dibahas cukup panjang dalam bab ini. Khususnya tentang utusan lembaga pekabaran Injil Rhein (Rheinische Missiongesellschaft, RMG) sejak 1850-an hingga 1940-an. Mereka juga telah membuka lapangan penginjilan di Pulau Sumatera bagian Utara dan deretan pulau-pulau di pantai barat Sumatera seperti Nias, Mentawai dan Enggano. Perluasan daerah penginjilan oleh para penginjil utusan RMG itu, mulai dari daerah Mandailing hingga Pakpak-Dairi, telah menambah jumlah jemaat. Jemaat-jemaat itulah yang menjadi cikal-bakal dari jemaat-jemaat HKBP kini dan gereja-gereja Batak lain yang kelak memisahkan diri maupun mandiri dari HKBP seperti Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Gereja Mision Batak (GMB) dan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Angola (GKPA), dan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).
Bagian lain dalam Bab II yang tak kalah pentingnya adalah sub-bab yang berjudul “Konflik: 1861-2011”. Memang, selama 150 tahun perjalanan bergereja, HKBP tak lepas dari konflik. Menarik dicermati, karena berbagai konflik tersebut berdimensi luas: ada yang karena politik kekuasaan di masa kolonial dulu, karena pertikaian dengan para raja maupun pemuka masyarakat Batak, konflik internal di kalangan jemaat, maupun karena campur-tangan pemerintah terhadap gereja.
Sedangkan Bab III, yang berjudul “Ke Mana HKBP Sekarang?”, merupakan refleksi atas perjalanan dan keberadaan HKBP di tengah masyarakat, bangsa dan negara selama ini. Apakah HKBP betul-betul sudah mampu memerankan dirinya sebagai pembawa suara-suara kenabian? Sebagai bagian dari civil society, apakah HKBP sudah berperan cukup besar dalam mengontrol kinerja negara dan berkontribusi positif bagi masyarakat?
Bagian akhir buku ini menyajikan Lampiran, Galeri Foto, Kepustakaan, Indeks Nama Orang, Indeks Nama Tempat dan Indeks Pokok-pokok. Buku ini bermanfaat untuk dibaca, bukan hanya oleh umat kristiani, tetapi juga semua umat beragama yang peduli dengan hubungan timbal-balik antara institusi keagamaan dan institusi-institusi lain di tengah masyarakat, bangsa dan negara. Sebab buku ini memang banyak membahas tentang hal itu, dan bukan tentang doktrin gereja atau ayat-ayat kitab suci.

* Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan.

 

RSS feed for comments on this post | TrackBack URI

  • Tools & Widget


    Victor Silaen Feedburner
    Statistik Blog
    Add to Technorati Favorites
    Political Activism Blogs - BlogCatalog Blog Directory
    Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!
    Join My Community at MyBloglog!