Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)

Victor Silaen’s Page

October 6th, 2011 at 4:12 pm

Penderitaan dan Keterlibatan Tuhan

Dimuat pada Harian Sinar Harapan, 1 Oktober 2011

Penderitaan dan Keterlibatan Tuhan
Oleh Victor Silaen

Judul Buku: Mengapa Ada Penderitaan (Kisah Nyata Anak-anak Tuhan)
Penulis: Pdt Dr Ir Mangapul Sagala
Penerbit: Perkantas, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal Buku: 120 hal

Hidup ini penuh dengan penderitaan, dan semua orang pasti pernah menderita. Ada yang menderita karena sakit-penyakit, dilanda bencana alam, ditinggal orang terkasih, dan sebagainya.
Pertanyaannya, mengapa umumnya orang yang mengalami penderitaan lalu bertanya kepada Tuhan, seakan Tuhan adalah sumber dari penderitaan yang dialaminya? Apakah Tuhan memang berurusan dengan penderitaan manusia? Kalau iya, sejauh mana Tuhan terlibat di dalamnya? Apakah Tuhan bertanggung jawab atas penderitaan itu?
Ada berbagai pandangan tentang penderitaan. Salah satunya, percaya bahwa penderitaan adalah hukuman Allah atas dosa-dosa manusia. Kalau benar demikian, bukankah itu berlawanan dengan sifat baik Allah?
Apakah Dia tidak punya cara lain untuk memperingatkan umat-Nya? Bukankah kita sendiri percaya bahwa Tuhan itu baik adanya? Jadi, mengapa Dia membiarkan penderitaan terjadi di dalam kehidupan anak-anak-Nya?
Pertanyaan lain, kalau Allah sungguh-sungguh Maha Kuasa, mengapa Dia tidak mencegah penderitaan melanda hidup kita? Seorang teolog skeptik David Hume bertanya,
”Apakah Allah ingin mencegah kejahatan, namun Dia tidak sanggup melakukannya? Jika demikian, Dia tidak Maha Kuasa (finitisme). Atau, Dia sebenarnya sanggup melakukannya, tetapi tidak menghendakinya? Jika demikian, Allah itu jahat. Atau, Allah itu memiliki sifat keduanya? Allah sanggup mencegah kejahatan dan penderitaan, serta berkeinginan melakukannya, tetapi mengapa tetap ada penderitaan?”
Sulit menjawabnya secara tuntas. Mungkin kita perlu mempelajari apa yang di dalam teologi dikenal sebagai theodicy, yang berasal dari kata theos (Allah) dan dikaios (adil/benar).
Jadi, theodicy tak lain adalah upaya memahami keadilan dan kebenaran Allah di balik masalah-masalah dan penderitaan-penderitaan yang terjadi. Pemahaman ini membawa kita untuk percaya bahwa di balik semua kesusahan hidup, Tuhan tetap baik dan berdaulat.
Itulah sebabnya Daud, sang Raja, mampu mengungkapkan kekagumannya terhadap Tuhan atas segala kebaikan-Nya di dalam Mazmur yang ditulisnya. Padahal, pahit getir kehidupan begitu banyak dialaminya.
Buku ini membahas penderitaan dari perspektif alkitabiah, pandangan para ahli maupun dari sisi praktis. Buku ini terdiri atas lima bab. Bab I berjudul “Memahami Keadilan Allah”, Bab II “Pendapat Para Ahli”, Bab III “Apa Kata Alkitab?”, Bab IV “Bagaimana Sikap Kita?”, serta Bab V “Kisah Nyata”. Pada bagian akhir, terdapat daftar pustaka dan biodata penulis.
Menariknya, buku ini juga mengisahkan banyak pengalaman nyata dari orang-orang yang mengasihi Tuhan. Misalnya pengalaman Jhoni Tuerah, seorang eksekutif muda yang mendampingi istrinya yang sakit, Ihut Aritonang, hingga akhirnya meninggal.
Curahan hati Jhoni (juga Ihut), melalui tulisan-tulisannya di Facebook dan SMS dimuat pada Bab V (hal 79-106). Selain itu, ada juga penuturan Niken, yang merawat suaminya, Mian Sijabat, yang menderita gagal ginjal dan harus cuci darah dua kali seminggu. Dari mana dana untuk membiayai perawatan itu? Niken dan Mian tidak tahu.
Mereka hanya berserah pada Tuhan. Setiap kali bertemu dengan pasien-pasien lain di rumah sakit, Mian selalu menyempatkan diri untuk bersaksi. Di tengah masa penderitaan ini, Mian akhirnya memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu. Kira-kira tiga tahun kemudian, Tuhan pun memanggilnya pulang ke rumah-Nya (hal 107-116).
Buku ini ditulis Mangapul Sagala, seorang pendeta bergelar Doctor of Theology dari Trinity Theological College, Singapura. Saat ini ia aktif melayani sebagai Koordinator Divisi Alumni Perkantas dan dosen Perjanjian Baru di beberapa sekolah tinggi teologi.
Membaca buku ini hingga halaman terakhir bukan saja menambah pengetahuan teologis kita, tetapi juga membuat kita terharu melihat cara Tuhan bekerja menguatkan anak-anak-Nya yang menderita, namun tetap mampu bertahan di dalam imannya.
Pendeta Eka Darmaputera, contohnya. Ia telah menderita kanker cukup lama. Suatu kali, ketika sakitnya semakin parah, sebuah gereja di Jakarta berencana untuk mengadakan ibadah khusus guna mendoakan kesembuhannya.
Mengetahui hal itu, Eka menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada semua orang yang bersimpati padanya. Surat tersebut akhirnya dibacakan di hadapan seluruh umat yang mengasihi dan mendukungnya dalam doa.
Banyak orang mendengarnya, termasuk yang membacanya sendiri (karena isi surat tersebut tersebar begitu cepat dan luas melalui internet). Diakui, isi surat tersebut memberkati banyak orang.
Ini karena Eka menulis agar jangan terutama memohon kesembuhan dari Tuhan atas dirinya, melainkan agar meminta ”Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keihklasan dalam jiwa. Semoga Tuhan berkenan menganugerahi saya perjalanan yang tenangm kalau boleh tanpa kesakitan dan tidak mahal biayanya, sampai saya tiba di pelabuhan tujuan….” (hal. 73-74).
Buku ini, sayangnya, menggunakan banyak singkatan (dan berulang-ulang) yang tidak lazim seperti contoh-contoh berikut ini: tgl, dst, dll, sdr/sdri. Selebihnya, buku ini bagus dan bermanfaat untuk dibaca.

* Peresensi adalah Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan.

 

RSS feed for comments on this post | TrackBack URI

  • Tools & Widget


    Victor Silaen Feedburner
    Statistik Blog