Dimuat pada Harian Suara Karya, 25 Februari 2011
Jangan Lagi Ada Aksi Kekerasan
Oleh Victor Silaen
Minggu, 6 Februari lalu, di Istora Senayan, Jakarta, ratusan umat dari berbagai agama menghadiri “The World Interfaith Harmony Week 2011”, Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Dunia. Di antara mereka terdapat tokoh agama, tokoh nasional, bahkan utusan PBB [...]
Rangkuman Tulisan dan Pemikiran Seorang Victor Silaen (VS)
Victor Silaen’s Page
Currently browsing posts found in February2011
Jangan Lagi Ada Aksi Kekerasan
Negara Koruptor
Dimuat pada Majalah Forum Keadian, No. 40/31 Januari-06 Februari 2011
Negara Koruptor
Oleh Victor Silaen
Ada banyak julukan yang bisa diberikan kepada Indonesia. Salah satunya adalah negara koruptor. Inilah sebuah negara yang dikelola oleh para pemimpin yang sebagian besar di antaranya adalah maling. Tapi jangan salah, mereka adalah maling terhormat – yang punya [...]
Negara Gagal dan Negara Kalah
Dimuat pada Harian Pelita, 24 Februari 2011
Negara Gagal dan Negara Kalah
Oleh Victor Silaen
”Negara tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sehari sesudah Insiden Monas, 1 Juni 2008. SBY mengecam aksi kekerasan dan pelaku [...]
Demokrasi Gotong Royong
Resensi buku ini dimuat pada Harian Sinar Harapan, 19 Februari 2011 16:20
Demokrasi Gotong Royong
Oleh Victor Silaen
BUKU ini membahas hal-ihwal demokrasi secara mendalam, yang dikaitkan dengan konteks Indonesia kekinian. Tak heran jika isinya sarat dengan pendapat dan kritik penulis buku ini, Merphin Panjaitan, atas demokratisasi Indonesia yang telah berjalan lebih dari sedekade ini.
Tak [...]
Negara Penonton
Dimuat pada Harian Seputar Indonesia, 14 Februari 2011
Negara Penonton
Oleh Victor Silaen
Kekerasan terhadap warga Ahmadiyah yang berujung dengan tewasnya tiga orang di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Minggu 6 Februari lalu, merupakan kasus yang direkayasa untuk kepentingan tertentu. Banyak kejanggalan yang menunjukkan peristiwa itu sebenarnya bisa dicegah, tetapi seperti sengaja dibiarkan meletup. [...]


