Telah dimuat pada Harian Suara Karya, 23 Juli 2010
Memenuhi Gizi Anak demi Masa Depan
Oleh Victor Silaen
Bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional pada Jumat, 23 Juli 2010. Diperkirakan jumlah anak Indonesia kini mencapai angka sekitar 65-70 juta jiwa, jumlah yang termasuk besar dibanding total penduduk Indonesia yang mencapai angka sekitar 230-240 juta jiwa. Pertanyaannya, bagaimana gizi anak-anak Indonesia? Ini penting sebab terpenuhinya gizi anak-anak ikut menentukan masa depan mereka. Dan kita, orang-orang dewasa, tak bisa menutup mata akan hal itu.
Dahulu, banyak pasangan suami-istri menghayati sekali moto “anakku adalah harta pusakaku” dan “anakku adalah kekayaanku”. Masih relevankah kini? Agaknya tidak karena sejatinya anak adalah sesama, dan sesama bukanlah sejenis “barang” yang bisa atau untuk dimiliki. Sebagai sesama, mereka setara dengan kita. Bedanya hanya terletak pada usia: kita dewasa, mereka belia. Dewasa identik dengan kemandirian, belia identik dengan kerentanan.
Yang lainnya sama, termasuk dalam hal hak asasi. Hanya saja, demi menolong anak-anak agar seiring waktu mampu bertumbuh kembang menjadi mandiri, untuk mereka telah ditetapkan secara khusus “sepuluh hak asasi anak” berdasarkan Konvensi Hak Anak PBB tahun 1989. Kesepuluh hak anak itu adalah hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan, mendapatkan nama sebagai identitas, status kebangsaan, makanan, akses kesehatan, rekreasi, kesamaan, dan peran dalam pembangunan.
Pertanyaannya, sudahkah anak-anak Indonesia menikmati hak-hak asasi khusus itu? Bukankah kenyataannya hingga kini kita sering menyaksikan anak-anak yang dalam keseharian berada di persimpangan-persimpangan jalan demi mencari sesuap nasi? Bagi anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka, jangankan pendidikan atau rekreasi atau akses kesehatan, bahkan untuk makan sehari-hari pun sulit didapatkan. Kalaupun mereka bisa makan kenyang sehari tiga kali, terpenuhikah gizi mereka? Itulah hal penting yang patut menjadi renungan kita bersama dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional.
Menegaskan kembali hakikat anak, menurut penyair kenamaan Kahlil Gibran, mereka adalah putra-putri kehidupan. Memang, dari kita, mereka ada. Tetapi, mereka bukanlah milik kita. Sebab, mereka punya jiwa dan kehidupannya sendiri. Jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tak dapat kita kunjungi sekalipun dalam mimpi. Lantas, apa yang dapat kita perbuat untuk mereka? Tulis Gibran, “Berilah mereka kasih sayangmu.” Mengasihi mereka, bukankah itu yang terpenting? Tentu, ada banyak cara untuk menunjukkan kasih kita kepada mereka. Salah satunya adalah memenuhi kebutuhan gizi mereka. Dan, yang dimaksud mereka, dalam konteks ini, adalah “anak-anak marginal”.
Kita perlu bersyukur dan mengapresiasi jika cukup banyak pihak dan kalangan memedulikan keberadaan anak-anak. Pada hari Gizi Nasional, 25 Januari lalu, misalnya, organisasi nonpemerintah (ornop) Sahabat Anak telah meluncurkan kampanye pemenuhan nutrisi bagi anak marginal. Kampanye bertajuk “Nutrisi untuk Sahabatku” itu menyosialisasikan hak anak Indonesia untuk mendapatkan makanan bergizi.
Digemakan melalui media massa dan dunia maya, kampanye itu bermaksud mengajak masyarakat menyisihkan sebagian uang mereka untuk menyediakan asupan gizi rutin dan momental bagi 3.000 anak binaan Sahabat Anak dan lembaga-lembaga lain sejenis di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sejak 25 Januari lalu, ornop ini secara rutin mendistribusikan menu sehat seperti susu, kacang hijau, telur rebus, biskuit, agar-agar, dan buah-buahan kepada anak-anak marginal. Kegiatan ini direncanakan terus berlangsung hingga puncaknya pada perayaan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2010.
Data Departemen Kesehatan tahun 2008 menyebutkan, sebanyak 18 juta anak Indonesia hidup telantar dan mengalami kekurangan gizi. Jumlah itu hampir sama dengan dua kali angka penduduk Jakarta. Tidakkah masa depan Indonesia akan berwarna lembayung di tangan jutaan generasi penerus yang bernasib malang seperti mereka? Tak pelak, gerakan sosial dalam rangka memenuhi gizi anak penting untuk digulirkan. Tujuannya yang terutama adalah menyebarkan pengetahuan tentang makanan sehat dan bergizi yang tidak melulu harus mahal.
Bagaimanapun, keberadaan Sahabat Anak perlu diapresiasi karena kegiatannya tak sekadar core business yang bersifat charity. Lebih dari itu, ia adalah sebuah gerakan sosial karena giat melakukan aksi-aksi di berbagai aspek untuk peningkatan kualitas hidup anak-anak. Termasuk di antaranya adalah aksi-aksi di bidang advokasi dan pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi anak-anak marginal. Selain sebagai komunikator, ornop itu juga berperan sebagai fasilitator, katalisator, dan organisator dengan pelbagai aktivitas yang merupakan komplementer (pelengkap program-program pemerintah), subsider (pengisi kekosongan kegiatan-kegiatan formal), dan komunikator (perantara antara rakyat dan instansi-instansi pemerintah).
Mengacu pada David C Korten (1993), ornop seperti Sahabat Anak secara lebih spesifik dapat juga disebut ornop generasi kedua, yakni community development atau self-reliants local development, yang memfokuskan perhatiannya pada masyarakat kecil agar mampu memenuhi pelbagai kebutuhan dengan cara mengembangkan masyarakat sekitarnya. Jadi, sifatnya lebih mengarah pada manajemen pengembangan sumber-sumber daya.
Boleh jadi masalah anak-anak marginal ini kurang menarik dibanding hiruk pikuk politik Indonesia dari hari ke hari. Tapi, kondisi mereka setidaknya turut menentukan masa depan bangsa. Kesehatan mereka adalah kesehatan masyarakat. Sedangkan kesehatan masyarakat, menurut Thomas Jefferson, penulis Deklarasi Independen Amerika Serikat, sangat menentukan kesehatan demokrasi yang tengah bergulir.
Mungkin terlalu jauh merujuk Jefferson dalam wacana ini. Kalau begitu, ingatlah Johannes Leimena, dokter yang pernah menjadi wakil perdana menteri tujuh kali berturut-turut dalam pemerintahan Soekarno, yang berperan sentral dalam hal peletakan dasar-dasar kesehatan masyarakat. Ia mulai menetapkan Bandung Plan, sebuah pilot project yang dimulai tahun 1951.
Program ini menekankan pentingnya tindakan promotif dan preventif di samping kuratif. Selain itu, dalam Bandung Plan juga ditekankan pentingnya keikutsertaan sekaligus pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yakni mendidik para “juru higiene” yang direkrut dari masyarakat. Tugas utama mereka adalah mengajar masyarakat tentang pentingnya sanitasi. Bandung Plan pun kemudian juga dikenang sebagai forum yang melahirkan sistem puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) dan rumah sakit mini di sekitar kita.
Soalnya sekarang, maukah kita berkontribusi di bidang kesehatan dengan cara memenuhi kebutuhan gizi anak-anak marginal?
* Penulis adalah Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan


