Telah dimuat pada Harian Seputar Indonesia, 18 Desember 2008
Berharap pada Pemilu 2009
Oleh Victor Silaen
Dalam studi-studi politik mutakhir, Indonesia kini dimasukkan ke dalam kelompok negara demokratis terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan India. Indonesia pun sudah meraih penghargaan bergengsi The Democracy Award, yang diserahkan langsung oleh President of International Association of Political Consultants (IAPC) Ben Goddard pada saat pembukaan Konferensi IAPC ke-40 di Nusa Dua, Bali, 12 November 2007.
Inilah salah satu capaian positif sejak Indonesia mengalami reformasi pasca-Soeharto. Di luar itu masih banyak hasil positif lainnya, meski tak dapat dimungkiri ada pula yang negatif. Yang jelas, jika ada pihak-pihak yang berpendapat bahwa para pemimpin yang dihasilkan melalui Pemilu 1999 dan 2004 sama saja buruknya dengan para pemimpin di era Soeharto, tentu saja itu merupakan sikap naif sekaligus penilaian gampangan yang cenderung menggeneralisir. Sebab pada kenyataannya, antara dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Bahwa kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh proses reformasi pasca-Soeharto itu belumlah memuaskan kita, itu soal lain. Itulah sebabnya reformasi tak boleh berakhir. Ia harus bergulir terus demi mewujudkan pelbagai hal yang lebih baik dari masa lalu, dan karena itulah selaku warga negara yang bertanggungjawab kita harus bersabar mengawalnya seraya berkontribusi dan berpartisipasi aktif di pelbagai aras dan aspek kehidupan.
Dalam kaitan itulah kita harus menyongsong Pemilu 2009 dengan sikap yang cerdas. Tak mau ikut pemilu alias menjadi golput? Silakan, karena itu merupakan hak asasi setiap orang yang tak sekali-kali boleh dilarang oleh pihak manapun, apalagi dalam wujud larangan bernuansa agamis yang bernama “fatwa”. Namun, sebelum memutuskan memilih sikap tersebut, kita patut bertanya: mengapa harus golput? Kalau sudah memiliki daftar lengkap para calon anggota legislatif (caleg), untuk kemudian mencermatinya satu demi satu setelah terlebih dulu mencari tahu profil para caleg tersebut, namun kemudian merasa tak seorang pun layak untuk dipercaya menjadi wakil rakyat, itu berarti keputusan golput merupakan sebentuk sikap yang bertanggungjawab. Sebaliknya, jika alasannya tak terkait sama sekali dengan pertimbangan kalkulatif seperti itu, maka memilih menjadi golput merupakan sikap yang apatis. Orang seperti itu, menurut mahaguru kekuatan kasih Leo F Buscaglia (1924–1998), “tidak merisikokan apa-apa, tidak akan mengerjakan apa-apa, tidak akan memiliki apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tidak menjadi apa-apa”.
Pemilu itu sendiri, sesungguhnya untuk apa? Jawabannya: pemilu adalah alat untuk perubahan di masa depan. Jadi, tujuannya adalah perubahan, sedangkan pemilu hanyalah alatnya. Untuk itulah kita harus menggunakannya secara maksimal, jika menginginkan hasilnya yang positif bagi kita sendiri. Berdasarkan itulah kita seyogianya berpartisipasi, jika kita merasa terpanggil untuk ikut menjadi penentu masa depan Indonesia — bukan sekadar penonton.
Namun, bagaimana jika orang-orang yang kita pilih untuk menjadi pejabat-pejabat publik itu nantinya sama saja dengan yang sudah-sudah (korup, lupa diri, dan yang sejenisnya)? Mana mungkin sama? Pastilah ada bedanya, entah sedikit atau banyak. Bukankah sudah terbukti bahwa era sekarang berbeda dengan era Soeharto? Memang, sangat mungkin para wakil rakyat yang terpilih nanti juga banyak yang tidak berkualitas, gemar korupsi, doyan “perempuan berbaju putih”, dan berperilaku buruk lainnya. Benar, tak ada jaminan bahwa orang-orang yang terpilih melalui pemilu nanti betul-betul layak memerankan diri sebagai wakil rakyat. Tapi setidaknya kita masih punya harapan, sehingga karena itulah kita harus memilih hanya orang-orang yang sudah kita ketahui rekam-jejaknya.
Sekaitan itu ingatlah ucapan bijak Noam Chomsky, seorang ilmuwan politik AS, berikut ini: “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan ada perubahan.” Jadi, perjuangkanlah perubahan itu berlandaskan prinsip “dari, oleh dan untuk kita”. Artinya, kita sendirilah yang harus terlibat aktif di dalam seluruh tahapan proses pemilu, dari sebelum sampai sesudah pemungutan suara. Begitulah seharusnya warga negara yang bertanggungjawab, yang ingin melihat masa depan Indonesia menjadi lebih baik dari masa silam. Karena itulah selepas pemilu nanti, setelah para wakil rakyat dilantik, kita harus memantau mereka agar tetap “berada di jalan yang benar”.
Dalam kaitan itu maka persiapkanlah secara kalkulatif empat caleg yang akan kita pilih pada Pemilu Calon Legislatif (Pileg) 9 April 2009. Pertama, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPR, mewakili rakyat dari partai politik di aras nasional. Kedua, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPRD tingkat I, mewakili rakyat dari partai politik di aras provinsi di mana kita berdomisili. Ketiga, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPRD tingkat II, mewakili rakyat dari kabupaten/kota di mana kita berdomisili. Keempat, dia yang kita harapkan menjadi anggota DPD, menjadi utusan daerah tanpa partai politik dari provinsi di mana kita berdomisili.
Setelah semua wakil rakyat hasil Pileg itu diumumkan dan dilantik, barulah beberapa bulan kemudian kita masuk pada Pemilu Calon Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres). Untuk itu kita juga harus berpegang pada prinsip yang sama: memilih dengan cermat dan penuh pertimbangan.
Pileg 2009 tinggal beberapa bulan lagi. Dalam rangka mempersiapkan diri menyambutnya, ada beberapa tip yang perlu diingat baik-baik sebelum masuk ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) nanti. Pertama, milikilah daftar lengkap para caleg untuk DPR/DPRD tingkat I dan II/DPD. Pelajarilah para caleg itu terkait kapasitasnya, reputasinya, karakternya, bahkan juga usia dan catatan kesehatannya. Untuk itu jangan sungkan bertanya kepada pihak-pihak yang berkompeten memberikan informasi tentang para caleg tersebut.
Kedua, pilih dan pilahlah para caleg tadi dan masukkan ke dalam kelompok-kelompok “caleg tak layak didukung” dan “caleg layak didukung”. Selama masih ada waktu, evaluasilah terus kelompok-kelompok caleg tersebut. Siapa tahu, disebabkan ada data-data baru yang didapatkan, kita perlu mengubahnya semisal memindahkan nama tertentu ke kelompok yang lain, atau mencoret nama tertentu di kelompok tertentu, dan lain sebagainya. Jadi, jangan bersikap terlalu kaku dengan kelompok-kelompok caleg tersebut. Siapa tahu data-data sebelumnya kurang akurat, kurang lengkap, dan lain sebagainya.
Ketiga, akhirnya kita harus memastikan bahwa kita sudah memiliki empat nama caleg yang akan kita pilih nanti, lengkap dengan nomor partai (untuk caleg DPR/DPRD) dan nomor urut mereka (caleg DPD diberi nomor urut berdasarkan abjad nama depan mereka). Dengan demikian sewaktu di TPS, kita tak memerlukan waktu lama untuk mencontreng keempat caleg yang layak didukung tersebut. Ingat, agar suara yang kita berikan tidak “bermasalah”, maka contrenglah pada tempat yang tepat sesuai aturan KPU.
Selesaikah sampai di situ? Tidak. Cari tahulah nomor-nomor penting keempat caleg pilihan tadi, agar kelak kita dapat menghubungi mereka. Artinya, jika mereka nanti terpilih, maka kita pun harus bertanggungjawab mengawasi dan mengingatkan mereka terus-menerus. Buktikanlah nanti bahwa mereka betul-betul wakil rakyat yang sejati. Dengan itu berarti, bukan mereka selalu berperilaku baik atau berkinerja bagus, melainkan selalu siap menerima semua masukan dan kritik.
Kita berharap setidaknya 90% wakil rakyat periode 2009-2014 nanti adalah orang-orang yang berkualitas dan berintegritas. Jika harapan itu tercapai, niscaya Indonesia yang adil makmur dan sejahtera dapat diwujudkan dalam waktu yang tak terlalu lama lagi. Sebaliknya, jika mereka yang duduk di posisi-posisi strategis itu adalah orang-orang yang umumnya kurang berkualitas dan kurang berintegritas, niscayalah Indonesia tetap begini-begini saja dan bukan tak mungkin malah kian terpuruk.
Sesungguhnya Indonesia memiliki banyak modal untuk menjadi negara kuat dan negeri makmur sebagaimana laiknya AS. Setidaknya kita punya modal struktural-institusional yang modernis, modal intelektual, modal sosial, dan modal material yang potensial untuk terus-menerus dikembangkan. Untuk itu, kuncinya terletak di tangan para wakil rakyat yang menjadi pembuat kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah. Karena itu sekali lagi, sambutlah Pemilu 2009 dengan sikap yang cerdas.
* Dosen Fisipol UKI, pengamat sospol.



Pak Viktosilaen layak untuk dipilih pada pemilihan 2009 saya dan keluarga pasti memilih anda. Maju Terus untuk menang, harun dethan,MA.
Just mau bilang …. update visi dan misi plus penjelasannya …. and masukan di web bapak; jika boleh, maka bis didisi kometar atau tanggapan [blog]
Pak, profile-nya tolong dilengkapi di http://www.calegindonesia.com/default.asp supaya banyak orang yang mengenal Bapak & memilih Bapak.
Saya juga setuju dengan kata2 Bapak, “Kita berharap setidaknya 90% wakil rakyat periode 2009-2014 nanti adalah orang-orang yang berkualitas dan berintegritas.”